Cinta Yang Terpenting

Namanya Aini. Sosok kecil yang baru berumur delapan
bulan itu tengah berdiri di dalam box tempat
tidurnya. Jemarinya yang kecil memegang erat pinggiran
box, berusaha untuk tetap berdiri di atas kakinya yang
belum kokoh. Ia tengah menatap Jane. Dan ketika
Jane tersenyum padanya, wajah mungil nan manis
itu langsung balas tersenyum. Saat itulah Jane jatuh
cinta padanya. Jatuh cinta pada pemilik mata polos dan
indah itu.

Aini tumbuh menjadi gadis muda yang ceria dan
bahagia. Bundanya adalah seorang wanita yang
penuh dengan kasih sayang dan kelembutan.
Namun, pernah juga sekali ia menanyakan mengapa ia
tak memiliki seorang Ayah. Bundanya berkata bahwa
sang Ayah adalah seorang tentara yang telah
meninggal dalam tugas. Sejak itu, Aini tak pernah
lagi membicarakan topik tersebut, karena ia tak mau
bundanya sedih. Pastilah sangat menyakitkan ditinggal
sang kekasih, pikirnya.

Sampai suatu hari, ketika ia bertengkar dengan
Dita, sepupu jauhnya, yang juga sekelas
dengannya. Persoalan sepele, namun tampaknya Dita
begitu marah. Dita kemudian mengatakan sesuatu
yang membuat Aini shock. Sesuatu yang tak
ingin dipercayainya namun sekaligus membuat
jantungnya berdetak begitu cepat. Ia langsung berlari
ke kantor bundanya dan memaksa untuk masuk.

Saat itu jane sedang menemui seorang klien,
namun karena mendengar dari Riris sekretarisnya bahwa
Aini ingin bertemu dengannya untuk sebuah
urusan mendesak, Jane minta diri sejenak dengan
kliennya dan menemui Aini. Baginya, putrinya adalah
yang terpenting dari segalanya.

“Ada apa, Nak?”

Wajah Aini merah dan tegang. Tampak menahan kemarahan.

“Dita bilang aku anak angkat.”

Jane terhenyak kaget. Ia baru akan duduk di kursinya saat
itu. Gerakannya langsung terhenti.

“Dita bilang aku tak punya Ayah. Ayahku yang Bunda
bilang telah mati dalam tugas itu adalah karangan
Bunda semata. Aku ini dipungut dari panti asuhan.”

Wajah Jane memucat. Jantungnya seakan terhenti saat
itu juga.

“Dita bilang Bunda berbohong padaku tentang semuanya.
Dan Ayah bundaku tak pernah menginginkanku.
Benarkah semua itu Bunda?” tanya Aini dengan
nada mendesak.

Ia berharap bundanya menggeleng dan menghiburnya
bahwa Dita hanya iri padanya sehingga
mengucapkan kata-kata kosong itu. Ia berharap
bundanya menyambar telepon di meja,
menelepon Tante Giska, ibu Dita dan menegur wanita itu
atas omong kosong anaknya. Tapi bundanya hanya
berdiri terpaku, tak mampu berkata-kata.

“Bunda…” Aini tercekat. Debaran jantungnya semakin
cepat. Keringat dingin mulai mengucur dari
keningnya. “Jangan katakan semua yang dikatakan
Dita benar.”

Dan seperti mendengar berita kematian dirinya,
Aini merasa dunianya runtuh seketika bersamaan
dengan anggukan pelan bundanya.

“Aku anak angkat? Jadi Bunda selama ini
membohongiku? Bunda bukan bundaku???”

“Aini, dengarkan penjelasan Bunda dulu…”

“Tidak!” Aini bangkit dari kursinya dengan kemarahan
yang meluap. “Jadi ayahku tidak mati dalam tugas?
Jadi siapa ayahku? Siapa bundaku???”

Jane mendekat, mencoba meraih Aini. Namun gadis muda
itu menepis tangannya dengan kasar.

“Maafkan Bunda, Nak…”

“Kau jahat! Kau bukan bundaku! Aku benci padamu!
Kau tak tahu apa yang kurasakan ini!” sembur Aini
tanpa sadar lagi apa yang dikatakannya.

Jane terhenyak, airmatanya jatuh. “Nak, maafkan
Bunda. Maafkan Bunda…” Hanya kata-kata itu yang
mampu diucapkannya berulang-ulang.

“Siapa orangtuaku? Aku ingin tahu!”

Jane menggeleng sedih. “Bunda pun tak tahu, Nak.
Bunda pun tak diberitahu. Tapi Bunda tak akan
melarangmu mencari tahu.”

Dan berbekal dari nama dan alamat panti asuhan tempat
dulu dirinya diambil, Aini mendatangi tempat itu.
Berharap bisa menemukan jejak kedua orangtuanya.
Namun sayang, pengurus panti yang lama telah
meninggal dunia. Panti itu sekarang dipimpin oleh
seorang wanita setengah baya bernama Ibu Tini.
Menurut Ibu Tini, lima tahun yang lalu panti tersebut
ditimpa musibah kebakaran dan semua dokumen
mengenai anak-anak yang pernah tinggal di sana
telah hangus terbakar api, yang artinya tak ada
jejak sedikitpun yang tertinggal bagi Aini.
Hancur sudah harapannya. Seketika itu hidupnya gelap
tak bercahaya.

Karena merasa putus asa dan marah, Aini kabur dari
rumah dan tinggal di rumah Anna, sahabat karibnya.

Suatu sore, bundanya muncul di sana. Aini tak
mau menemuinya. Akhirnya bundanya pulang dan
hanya menitipkan sebuah tas ransel pada Anna
untuk diberikan pada Aini. Tas itu berisi semua
perlengkapan pribadi Aini, termasuk buku diary-nya
dan boneka beruang kesayangannya yang sedari
kecil menemaninya. Dan juga sejumlah uang.
Jane tahu anaknya pergi dari rumah tanpa membawa
apapun, karena itulah ia singgah untuk memberikan
barang-barang tersebut. Sebenarnya ia ingin membujuk
Aini untuk pulang, namun ia pikir mungkin Aini
belum memaafkannya, karena itu Jane malah
menyiapkan barang-barang Aini agar Aini tetap
merasa nyaman selama berada di rumah Anna.

Tapi hati Aini tidak tergerak sedikitpun ketika
menerima barang-barang tersebut. Ia tak mampu melihat
cinta dan perhatian bundanya. Setelah beberapa hari
di rumah Anna, Aini mulai merasa bosan dan berniat pergi
ke rumah omanya. Namun sejenak ia merasa ragu,
bukankah omanya kini bukan omanya lagi?
Apakah omanya masih mau menerimanya?
Lagipula harusnya ia merasa marah juga pada omanya
yang selama ini juga ikut membohonginya. Namun karena
rasa rindu pada wanita tua itu semakin menggebu
di hatinya, akhirnya Aini membulatkan tekad untuk pergi
ke sana.

Omanya menyambutnya seperti biasa. Pelukan yang
erat, ciuman yang mesra di pipi kanan dan kiri dan
secangkir teh manis. Tidak ada yang berbeda.
Bahkan senyum dan mata wanita itu tetap
memancarkan kelembutan dan kehangatan yang sama.
Hanya saja Aini menjadi sedikit canggung, tak bisa
melupakan kenyataan bahwa dirinya hanyalah seorang
anak angkat. Seorang asing di tengah-tengah
keluarga mereka. Harusnya omanya sudah mendengar
dari bundanya bahwa dirinya telah tahu tentang rahasia itu.

“Oma sudah mendengar cerita dari Bunda?” tanya Aini ragu.

Omanya mengangguk. “Oma punya cerita untukmu.
Kau mau mendengarnya? ”

Aini mengangguk cepat. Rasa penasaran
menguasainya seketika. Akankah Oma menceritakan
kisah hidupnya?

“Waktu itu bulan Desember. Bundamu mengunjungi
sebuah panti asuhan dengan niat memberi sumbangan.
Saat itulah bundamu melihatmu di sana. Kau masih
berumur delapan bulan. Sepulang dari sana,
bundamu menyatakan keinginannya pada Oma dan Opa
untuk mengadopsimu. Saat itu kami menentang keinginannya. ”

Oma berhenti sejenak melihat reaksi Aini. Gadis itu
tampak menahan napas.

“Bukan kami tidak menyukaimu, kami bahkan belum
sempat melihatmu. Tapi Jane waktu itu masih berumur
dua puluh lima tahun dan belum menikah.
Dia memang memiliki pekerjaan yang bagus
sebagai pengacara, pasti mampu membiayaimu.
Namun dia belum menikah. Kami khawatir, bila suatu hari
nanti Jane jatuh cinta pada seorang lelaki, apakah dia
akan dapat menikah dengan status memiliki seorang
anak angkat? Akankah lelaki itu menerimanya?
Tapi Jane berkeras dengan keinginannya. Ia bilang ia
telah jatuh cinta padamu.”

Mata Aini berkaca-kaca mendengar penuturan omanya.
Ada rasa sesak membuncah dalam hatinya.

“Sebulan kemudian, Jane pulang membawamu. Dia benar,
kau malaikat termanis yang pernah kami lihat. Dan kami
juga ikut jatuh cinta padamu.”

Airmata Aini jatuh. Rasa bersalah kini mendekapnya
erat. Orang-orang ini, yang sama sekali tidak
memiliki hubungan darah dengannya bisa
mencintainya sedemikian besar?

“Dan semenjak itu, Jane tak pernah memiliki hubungan
khusus dengan laki-laki. Lama kelamaan, Oma dan Opa
tidak pernah menyesali hal itu lagi karena setelah melihat
Jane yang menjadi seorang Ibu, betapa bahagianya dia,
kami tak bisa tak ikut merasa bahagia. Dia telah
menemukan hidupnya dalam dirimu.”

Oma berdiri dan pindah duduk di samping Aini.
Dipeluknya Aini seraya menghapus airmatanya.

“Tahukah kau kalau bundamu juga anak angkat?”

Aini terperangah tak percaya. “Anak angkat?”

Oma tersenyum dan mengangguk.
Matanya memandang keluar, menerawang,
seakan melihat lagi kilasan peristiwa di masa lalunya.
“Dulu, setelah Oma menikah dengan kakekmu hampir
lima tahun, kami tidak dikarunia seorang anakpun.
Akhirnya kami memutuskan untuk mengadopsi seorang
anak. Jane, bundamu. Kami menyayangi Jane seperti
anak kami sendiri. Dan ketika Jane berusia dua puluh
tahun, kami memutuskan untuk memberitahunya tentang
jati dirinya. Awalnya bundamu terkejut, seperti juga
reaksimu setelah tahu akan hal itu. Tapi setelah beberapa
hari berlalu, bundamu datang berbicara pada Oma dan
Opa. Kami bertanya apakah dia mau mencari
orangtua aslinya? Kami bersedia membantu.
Tapi bundamu menolak.”

“Mengapa Bunda menolak?”

“Kata Bunda yang terpenting baginya bukan darah yang
sama, tapi cinta yang ada di dalam hati kami dan
hatinya.” Oma mendekat, meletakkan tangannya di dada
Aini. “Di sini. Cinta di dalam hati. Yang menyatukan kita
semua sebagai satu keluarga.”

Dan tangis Aini pun pecah. Ia teringat akan kata-kata
kasar yang dilontarkannya pada bundanya beberapa hari
yang lalu. Ia sungguh jahat, bundanya tak pantas
menerima kata-kata itu. Bundanya tahu semua rasa
yang dirasakannya karena bundanya pun sendiri
pernah mengalami semua ini. Hanya saja bundanya
tidak mempermasalahkan asal usulnya karena
bundanya menghargai cinta yang begitu besar yang
telah diberikan orangtuanya. Aini merasa malu.
Malu karena tidak tahu akan pengorbanan
bundanya untuknya. Malu karena lupa akan cinta
bundanya untuknya. Bundanya benar, bukan darah
yang terpenting. Cinta di hati lah yang terpenting.
Cinta yang menyatukan mereka menjadi satu keluarga.

By Angel Li

Published in: on November 22, 2009 at 8:23 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://diazvetiauda.wordpress.com/2009/11/22/cinta-yang-terpenting/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: